Perjalanan ke Pulau Putri (2): Lebih Baik Mati Daripada Hidup Kelaparan

Terkirim Desember 22, 2008 oleh syamsubudiyanti
Kategori: Empowerment

Raas, 4 April 2005

SEKITAR pukul 10.30 WIB, rombongan yang terdiri dari Bappeda, Tim Faskel, Korkot dan Asisten Korkot, berangkat meninggalkan pelabuhan Dungkek menuju Pulau Raas. Setelah 1,5 jam di laut, belum ada tanda-tanda datangnya gelombang. Memang kebetulan, cuaca saat itu sangat baik sehingga perjalanan berjalan lancar. Kekhawatiran saya sejak tadi malam pun sirna.

Demikian pula, keceriaan mulai tampak pada wajah rombongan. Perjalanan menjadi sangat berbunga-bunga karena rasa takut hilang berganti dengan kenikmatan mata memandang laut lepas nan indah. Sang nahkoda pun memastikan bahwa perjalanan ini bagus, dan kalaupun ada gelombang, itu sangat kecil, tidak seperti biasanya.

Di tengah ayunan gelombang kecil, sekedar melapaskan kejenuhan, saya memperkenalkan diri sembari mencoba ngobrol dengan salah satu penumpang bernama Usman yang kebetulan duduk disamping saya. Sementara teman-teman lain, tengah asyik main domino.

Usman, seorang warga asli Raas yang berasal dari Desa Brakas, Kecamatan Raas. Berprofesi sebagai pedagang pracangan di kampungnya, membuat Usman terbiasa mengarungi luas samudra antara Sumenep dan Raas setiap minggu untuk ‘kula’an’ (membeli barang dagangan—red), guna dijual lagi.

Banyak cerita duka yang dialami Usman dalam menekuni pekerjaannya, tapi baginya, hal itu bukan menjadi beban karena telah dianggap sebagai bagian hidupnya. Bagi Usman, lebih baik mati daripada hidup kelaparan yang disampaikan dengan bahasa madura, ‘awak mateah nom’ tembhang lapar’.

Dengan sesekali diselingi guyonan kecil, saya bertanya, ”Pak Usman, napah bender e Raas ka’dintoh bannyak janda ban reng binek se edhinggalagih lakenah (apa betul di Raas banyak janda dan istri yang ditinggal lama suaminya–red).” “Oo…bendher nom (betul–red),” jawab Usman.

Menyambut pertanyaan saya, sontak dengan panjang lebar, Usman bercerita. Dirinya membenarkan dan memperkuat anggapan umum bahwa Pulau Raas adalah pulau Putri. Laut adalah satu-satunya lahan untuk mecari nafkah bagi masyarakat Raas. Sebesar apapun arus ombak, orang Raas harus siap menghadapinya untuk menghidupi keluarga.

Berbulan-bulan di tengah laut dan tidur di atas gelombang adalah bagian biasa dari kehidupan warga Raas. Sehingga, bagi keluarga yang ditinggalkan pun, harus rela melepas kepergian suami, demi kelangsungan hidup mereka.

Tanpa terasa, jarum jam menunjukkan pukul 16.30 WIB. Perahu pun telah merapat di pelabuhan Brakas, Raas. Rombongan dijemput dengan izusu panther, sebuah mobil dinas Kecamatan Raas yang merupakan satu-satunya mobil yang ada di pulau ini. Sesampainya di Desa Brakas, rombongan disambut oleh beberapa Kepala Desa yang langsung diantar ke rumah Kepala Desa Alasmalang untuk makan dan Sholat Ashar.

Senin, 31 Januari 2005, pukul 09.30 WIB, lokakarya kecamatan dilaksanakan. Pak Camat dalam sambutannya menjelaskan bahwa kemiskinan di Pulau Raas bukan karena malas, namun lebih banyak disebabkan oleh akses informasi dan transformasi. Orang Raas tidak kenal putus asa dalam mencari penghidupan, ombak besar sekalipun siap diarunginya. Orang Raas berprinsip, lebih baik mati daripada hidup kelaparan. P2KP seperti menjadi secercah harapan bagi warga pulau ini tentang bagaimana masyarakat Raas harus bersikap. (Bersambung)

(Kompilasi Data dan Tulis: Syamsu Budiyanti, Dari Catatan: Abdussalam, Asisten Korkot 3 Pamekasan-Sumenep KMW 16 (2/2))

Mbok Timbrung

Terkirim Desember 22, 2008 oleh syamsubudiyanti
Kategori: Empowerment

Boyolali, 21 Juli 2005

DUKUH SUMBER REJO, merupakan salah satu bagian kecil dari Desa Sumber Agung, yang terletak di antara perbatasan Kecamatan Klego dan Andong. Mungkin, para Pembaca akan mengira bahwa Desa Sumber Rejo adalah desa yang ramai dan penuh dengan sumber daya. Namun kenyataannya, tidaklah demikian.

Sisi lain yang nampak, Desa Sumber Rejo menunjukkan kegersangan dan keterbelakangan. Rata-rata penduduknya yang masih lugu dan bersahaja. Salah satu contoh adalah keluarga Mbok Timbrung yang seorang janda tua dengan tanggungan seorang anak cacat mental dan satu cucu yang harus ditanggung biaya hidupnya.

Selain itu, kondisi kemiskinan Mbok Timbrung juga bisa dilihat atas rumah gubuk yang didiaminya, berdiri di atas tanah yang bukan miliknya. Atas kebaikan hati seorang tetangga, maka Mbok Timbrung diijinkan menumpang dengan mendiami tanah tersebut, untuk sekedar berteduh dan tinggal.

Sehari-hari, Mbok Timbrung bekerja membuat tempe dan menjualnya ke pasar untuk memperoleh penghasilan guna menyambung hidupnya. Meskipun dengan modal yang sangat kecil yakni sebatas bisa membeli 4 kg kedelai untuk sekali produksi, ia berusaha mempertahankan hidupnya plus keluarga yang ditanggungnya.

Ada hal yang memprihatinkan, ketika penulis menanyakan, apakah Mbok Timbrung mengikuti kegiatan bermasyarakat, sosok wanita tua ini mengatakan, tidak, sebab dirinya merasa malu atas kondisinya saat ini yang miskin, jelek, dan kotor.

Rendah diri yang dialami Mbok Timbrung ini, nampaknya merupakan kendala utama berinteraksi dengan sekitarnya bagi warga miskin. Sebagai seorang Fasilitator, kami hanya bisa berharap, semoga di kemudian hari, ada secercah cahaya yang bisa melepaskan Mbok Timbrung dari permasalahan kemiskinan dan rasa rendah dirinya. Dan semoga pula, kita menjadi semakin peduli, bahwa, masih banyak Mbok Timbrung-Mbok Timbrung lain di negeri ini yang membutuhkan uluran tangan kita.

(Syamsu Budiyanti; Dari Data Tim Faskel 12 Kecamatan Klego Boyolali, KMW 13 Magelang)

Simbok-simbok yang Lebih Teguh dan Jujur

Terkirim Desember 22, 2008 oleh syamsubudiyanti
Kategori: Empowerment

Tulungagung, 28 Februari 2005

INPRES Desa Tertinggal (IDT) di wilayah Kabupaten Tulungagung, sempat dijadikan pembanding sekaligus referensi bagi keberlangsungan P2KP yang saat ini baru memasuki masa persiapan menjelang sosialisasi awal di tingkat desa dan kelurahan. Sebelum masyarakat penerima manfaat nantinya menyatakan menerima atau menolak pada saat siklus Rembug Keswadayaan Masyarakat (RKM), salah seorang TKPP pada proyek P2KP untuk wilayah ini, Udin, berpesan agar Fasilitator Kelurahan (Faskel) betul-betul melakukan pemetaan sosial secara cermat.

Hal ini disampaikan Udin karena adanya pengalaman yang cukup menarik ditemukannya di Desa Kates. Meskipun dalam lokasi satu desa, karakteristik kelompok pemanfaatnya, ternyata dapat dibedakan berdasarkan jenis kelamin. Udin mengatakan hal itu karena di Desa Kates, Kecamatan Kauman, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, proyek IDT bisa berbeda kuantitas dan kualitasnya. Meski sama-sama satu desa, antara Desa Kates Barat dengan Desa Kates Selatan, kualitasnya ternyata bisa berlainan.

Udin mencontohkan, proyek IDT yang di banyak daerah macet, namun tidak begitu halnya yang terjadi di Desa Kates Selatan. Sebab, di Desa Kates Selatan, IDT dapat berjalan bagus. Terbukti sampai sekarang, IDT masih eksis. Tapi, Desa Kates Barat, justru macet. Mengapa? Berikut kutipan penuturan Udin, TKPP untuk P2KP Kab. Tulungagung pada Senin malam, 24 Januari 2005, saat bertemu dengan Tim Supervisi Bersama P2KP di Desa Banaran, Kecamatan Kauman: “…..sampai-sampai, karena yang mengelola IDT di Desa Kates Selatan itu orangnya jujur, ada rencana apa pun selalu dikonsultasikan dulu kepada kami. Misalnya, untuk IDT ada yang mendapat bantuan kambing. Sekarang, kambingnya sudah berkembang, jadi 3 sapi. Karena orangnya jujur, pernah bertanya pada kami: “Pak, sekarang kambingnya sudah jadi 3 sapi, apa boleh yang satu kami jual untuk bangun rumah?”. Nah sampai seperti ini lho, orang yang jujur itu. Padahal, memang sudah untung. Sebab, asalnya hanya 1 kambing. Tapi, walaupun masih di 1 wilayah desa, di Desa Kates Barat, justru sebaliknya. IDT malah macet. Nah, kalau saya amati, para penerima IDT di Kates Selatan yang berhasil dan eksis sampai sekarang itu kebanyakan adalah perempuan. Sedangkan di Kates Barat, rata-rata Bapak-bapak….”

Mendengar ungkapan itu, Pak Parwoto dari Bank Dunia bersama Pak Hotma dari Perkim yang menjadi narasumber pada pertemuan di Desa Banaran serta dipandu oleh Muzakki dari Tenaga Ahli Sosialisasi KMW 15 selaku moderator, mengatakan: “……saya jadi tertarik untuk mengomentari. Memang, kebanyakan ibu-ibu yang ulet. Tidak salah seperti dicontohkan Bapak dari TKPP tadi. Kalau Bapak-bapak, itu macet karena uangnya banyak terpakai, misalnya untuk beli rokok….”

Ini bermakna bahwa keberpihakan terhadap gender, rupanya tidak sekadar tuntutan emosional keseimbangan peran fungsional perempuan secara kuantitatif, namun kaum hawa seperti di Desa Kates Selatan itu, telah membuktikan kualitas keswadayaan dan kejujuran mereka dalam menanggulangi kemiskinan di daerahnya.

Desa Kates sendiri merupakan salah satu dari 13 desa di Kecamatan Kauman yang menerima bantuan P2KP 2/2 di Satuan Wilayah Kerja (SWK) 15. Alokasi Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) untuk desa ini sebesar Rp. 250 juta. Desa Kates terdiri dari 9 RW dan 29 RT. Jumlah penduduknya sekitar 1258 KK. Dari jumlah itu, penduduk perempuan tercatat 1904 jiwa. Sedangkan kaum miskinnya sebanyak 545 KK kategori Pra-KS dan 259 KK kategori KS-1.

(Data Cak Zaki, TA Sosialisai KMW 15 P2KP 2/2, Refleksi terhadap Peran Perempuan di Desa Kates, Tulungagung; 3 Februari 2005, pukul 14:52:49 WIB; Ditulis oleh: Syamsu Budiyanti)

Diinspirasi Kemiskinan, LeA Ciptakan Lagu E..E..E..P2KP

Terkirim Desember 22, 2008 oleh syamsubudiyanti
Kategori: Empowerment

Klaten, 8 April 2005

SUARA bambu itu mendayu, seperti tiupan sepoi angin. Suara perempuan itu, dari awal hingga akhir, tak henti menyenandungkan ‘frase’ yang sama. Ya, potongan melodi yang sama, tapi dengan tingkat variasi yang menakjubkan. Suara irama bambu yang sekonyong-konyong ‘mencelat’ satu oktaf, sebelum sang suara menyentuh nada terakhir yang berputar, membuat lingkaran-lingkaran kecil, tak henti bergelombang di sepanjang ‘frase’, bahkan sempat ‘banting setir’ ke arah berlawanan.

Irama musik bambu tradisional ‘The Prink Tone Kangen Desa’, yang sanggup menaklukkan dominasi rancah musik pada umumnya, adalah karya Leo Agung Bambang Pangetrapan, 37 tahun, Kepala Desa Jetis Wetan, Kecamatan Pedan, Kabupaten Klaten Jawa Tengah, yang bereksperimen dengan potongan bilah bambunya.

Pemuda sederhana yang menyisihkan lawan politisnya dalam pemilihan Pilkades dengan biaya warganya sendiri ini, mampu menjungkir balikkan tangga nada melalui potongan bambu, ‘menghidupkan’ gendang dan celo bambu, mengontrol titi nada dengan ‘menyetem’ sitar, diiringi alunan suling ke dalam sebuah ‘hak cipta mode’ lagu buatan sendiri.

Malam itu, LeA dan kelompok buruh ‘The Prink Tone Kangen Desa’, membawakan aneka musik campur sari yang merupakan terjemahan dari sosialisasi P2KP warga miskin melalui bahasa musikal tradisional. Namun, benarkah LeA menerjemahkannya? Yang pasti, hubungan masyarakat miskin dengan media musikal seperti yang tersirat dalam syair campur sari tersebut, bukanlah sesuatu yang statis. Dengan kata lain, LeA yang juga mantan rocker ini, menafsirkan dan menuangkannya dalam ekspresi musikal milik masyarakatnya sendiri.

Sebenarnya, dalam karya lagu E..E..E..P2KP, LeA ingin mengajak warganya untuk ‘perang’ melawan kemiskinan. Bahkan, LeA menghadirkan suasana pedesaan, ditambah suara kicau burung dan perkutut dalam alunan irama bambun. Menurutnya, ini dimaksudkan untuk menciptakan gairah, motivasi dan semangat warga yang tetap terjaga dalam kebersamaan nan guyub di desanya.

Dan ketika gairah sang seniman alumnus UNS ini mencapai klimaksnya, semakin nyaringlah dirinya memproklamasikan perjuangan dan kebebasannya. Perjuangan itu terlepas dari kekayaan semu duniawi semata, seperti yang tersirat dari makna kata-kata syair lagunya, yang membedah, mencari solusi kemenangan, membuang bangkai kemiskinan.

Aneka rangkaian campursari, dangdut bahkan irama bossas yang dimainkannya, menggaung diselimuti dinginnya malam. Mengilhaminya untuk mendulang karya yang lebih ber’makna’. Dan, inilah syair lagu P2KP yang tercipta:

E..E..Pe..Dua..Ka..Pe..
E..E..Pe..Dua..Ka..Pe..
E..E..Pe..Dua..Ka..Pe..
E..E..iku Programe……

Iku Program Kang Biso Nanggulangi
Kemiskinan Warga Ing Perkotaan
Mbudi Doyo Ambangun Masyarakat
Kang Mandiri Berdaya Lan Madani

Ayo-ayo Prakanca Ningkatake
Cipto Roso Karso Lan Kaguyuban
Mbangun Wargo Supoyo Duwe Doyo
Ekonomi Sosial Pembangunan

Reff: 
Duh Gusti Kepareng Pring Doyo
Dateng Wargo Kang Nembe Kekirangan
Supados Sagetho Mbudi Doyo
Amrih Cekap Sandang Pangan Lan Papan
 
Gyaaa Gumregah Rakyate Podho Sayuk
Sopo Wae Nindakake Bebarengan
Gerakan Ambangun Swa-Sembodo
Lan Memangun Dedhasar Kautaman

Begitulah, lagu dan irama P2KP yang diciptakan LeA dalam semangat dan penjiwaan ‘ruh P2KP’. Lagu ini merupakan inspirasi penghayatannya sebagai bagian dari tugasnya sebagai seorang pemberdaya sejati, meski dalam ekspresi seninya yang tersendiri.

(Syamsu Budiyanti dari Data Tim Fasilitator Pedan, Klaten, JawaTengah, KMW 14 P2KP 2/2)

Perjalanan ke Pulau Putri (2): Lebih Baik Mati Daripada Hidup Kelaparan

Terkirim Desember 22, 2008 oleh syamsubudiyanti
Kategori: Empowerment

Raas, 4 April 2005

SEKITAR pukul 10.30 WIB, rombongan yang terdiri dari Bappeda, Tim Faskel, Korkot dan Asisten Korkot, berangkat meninggalkan pelabuhan Dungkek menuju Pulau Raas. Setelah 1,5 jam di laut, belum ada tanda-tanda datangnya gelombang. Memang kebetulan, cuaca saat itu sangat baik sehingga perjalanan berjalan lancar. Kekhawatiran saya sejak tadi malam pun sirna.

Demikian pula, keceriaan mulai tampak pada wajah rombongan. Perjalanan menjadi sangat berbunga-bunga karena rasa takut hilang berganti dengan kenikmatan mata memandang laut lepas nan indah. Sang nahkoda pun memastikan bahwa perjalanan ini bagus, dan kalaupun ada gelombang, itu sangat kecil, tidak seperti biasanya.

Di tengah ayunan gelombang kecil, sekedar melapaskan kejenuhan, saya memperkenalkan diri sembari mencoba ngobrol dengan salah satu penumpang bernama Usman yang kebetulan duduk disamping saya. Sementara teman-teman lain, tengah asyik main domino.

Usman, seorang warga asli Raas yang berasal dari Desa Brakas, Kecamatan Raas. Berprofesi sebagai pedagang pracangan di kampungnya, membuat Usman terbiasa mengarungi luas samudra antara Sumenep dan Raas setiap minggu untuk ‘kula’an’ (membeli barang dagangan—red), guna dijual lagi.

Banyak cerita duka yang dialami Usman dalam menekuni pekerjaannya, tapi baginya, hal itu bukan menjadi beban karena telah dianggap sebagai bagian hidupnya. Bagi Usman, lebih baik mati daripada hidup kelaparan yang disampaikan dengan bahasa madura, ‘awak mateah nom’ tembhang lapar’.

Dengan sesekali diselingi guyonan kecil, saya bertanya, ”Pak Usman, napah bender e Raas ka’dintoh bannyak janda ban reng binek se edhinggalagih lakenah (apa betul di Raas banyak janda dan istri yang ditinggal lama suaminya–red).” “Oo…bendher nom (betul–red),” jawab Usman.

Menyambut pertanyaan saya, sontak dengan panjang lebar, Usman bercerita. Dirinya membenarkan dan memperkuat anggapan umum bahwa Pulau Raas adalah pulau Putri. Laut adalah satu-satunya lahan untuk mecari nafkah bagi masyarakat Raas. Sebesar apapun arus ombak, orang Raas harus siap menghadapinya untuk menghidupi keluarga.

Berbulan-bulan di tengah laut dan tidur di atas gelombang adalah bagian biasa dari kehidupan warga Raas. Sehingga, bagi keluarga yang ditinggalkan pun, harus rela melepas kepergian suami, demi kelangsungan hidup mereka.

Tanpa terasa, jarum jam menunjukkan pukul 16.30 WIB. Perahu pun telah merapat di pelabuhan Brakas, Raas. Rombongan dijemput dengan izusu panther, sebuah mobil dinas Kecamatan Raas yang merupakan satu-satunya mobil yang ada di pulau ini. Sesampainya di Desa Brakas, rombongan disambut oleh beberapa Kepala Desa yang langsung diantar ke rumah Kepala Desa Alasmalang untuk makan dan Sholat Ashar.

Senin, 31 Januari 2005, pukul 09.30 WIB, lokakarya kecamatan dilaksanakan. Pak Camat dalam sambutannya menjelaskan bahwa kemiskinan di Pulau Raas bukan karena malas, namun lebih banyak disebabkan oleh akses informasi dan transformasi. Orang Raas tidak kenal putus asa dalam mencari penghidupan, ombak besar sekalipun siap diarunginya. Orang Raas berprinsip, lebih baik mati daripada hidup kelaparan. P2KP seperti menjadi secercah harapan bagi warga pulau ini tentang bagaimana masyarakat Raas harus bersikap. (Bersambung)

(Kompilasi Data dan Tulis: Syamsu Budiyanti, Dari Catatan: Abdussalam, Asisten Korkot 3 Pamekasan-Sumenep KMW 16 (2/2))

Sosialisasi Bulukumpa dengan Film, Ibu-ibu: Aduh Sinetronku…

Terkirim Desember 22, 2008 oleh syamsubudiyanti
Kategori: Empowerment

Bulukumpa, 28 Maret 2005

MIMIK KEHERANAN menghiasi wajah ibu-ibu Dusun Lembangnge, Desa Kambuno, Kecamatan Bulukumpa, Sulawesi Selatan, yang tengah berkumpul menunggu penayangan sinetron kesayangan mereka. Pasalnya, sinetron dari Raam Punjabi Production yang mereka nanti, kini berganti dengan tayangan TV ber-angle-kan ‘Team P2KP Kecamatan Bulukumpa, mempersembahkan…’. Belum habis rasa heran mereka, tiba-tiba, seorang anak kecil menyeletuk dari belakang, “Itu kan wajah keriput Ibu Hajar yang sedang menumbuk padi, muncul di layar TV!” Lho kok bisa?

Gambaran diatas adalah nuansa umum yang terjadi di Kecamatan Bulukumpa saat Tim P2KP Bulukumpa menayangkan sebuah film dokumenter yang mengangkat situasi krisis yang nyaris luput dari perhatian sebagian besar warga bertajuk ‘Kemiskinan di Sekitar Kita’.

Disadari atau tidak, tipologi kemiskinan di pedesaan memiliki karakteristik yang relatif berbeda dengan kondisi perkotaan. Kemiskinan di pedesaan cenderung ‘terselubung’ dibalik meratanya taraf pendapatan dan strata ekonomi. Sangat berbeda jika dibandingkan dengan kondisi kemiskinan di perkotaan, yang dapat langsung ditangkap oleh indera karena didukung situasi yang kontras, misalnya gambaran pemukiman kumuh yang berada di antara gedung pencakar langit. Kemiskinan di pedesaan, cenderung tidak menarik perhatian untuk dibahas karena tersembunyi  di tengah kebun atau berada jauh di lereng-lereng gunung. Padahal, situasinya tetap saja sama. Bahwa kemiskinan dimana-mana adalah lagu lama tentang keterhimpitan, keterjajahan dan kemelaratan.

Akibatnya, ketika warga mengetahui ada proyek bantuan kemiskinan (bahasa sebagian warga untuk P2KP–pen), banyak diantara mereka yang sudah pasang ‘kuda-kuda’ untuk ‘menjemput bola’. Entah mereka benar-benar butuh atau tidak, miskin atau tidak, yang penting banyak diantara mereka yang hanya tergiur oleh nilai uang yang dijanjikan P2KP. ‘Boro-boro’ tergugah untuk bersama berjuang menegakkan moralitas setelah 1 atau 2 jam mengikuti sosialisasi, malah pertanyaan yang pertama muncul pada sesi tanya jawab adalah: ‘Pak Fasilitator, magapi na cair doi`na (kalo bisa tahu, kapan dananya cair?)’. Oalah, akhirnya di benak banyak warga, P2KP terkesan hanya milik Fasilitator saja. Dan yang memprihatinkan, muncul persepsi, Fasilitator adalah tukang bagi-bagi duit. Wah!

Kenyataan tersebut membuat kami berpikir untuk membuat cara yang paling efektif dalam memberi pemahaman kepada warga bahwa masalah kemiskinan adalah masalah kita bersama. P2KP hanya bisa berhasil jika rasa keprihatinan akan kemiskinan yang menjadi penyakit sosial dimiliki oleh warga, dan masih banyak orang yang membutuhkan bantuan dibanding kita. Untuk itu, diperlukan media yang paling efektif guna menarik perhatian warga dalam menyimak kandungan misi perjuangan P2KP, dibanding sekedar diskusi-diskusi di tingkat RK.

Kebetulan, di dekat posko, terdapat bekas stasiun relay TVRI yang kini diambil alih oleh pihak kecamatan dan difungsikan sebagai pemancar siaran ke seluruh pelosok hingga menjangkau beberapa kecamatan tetangga (biasanya operator me-relay siaran RCTI). Melalui stasiun relay ini, kami sering memutar VCD P2KP buatan KMP, namun karena faktor bahasa, efek dari penayangan ini kurang begitu terasa.

Maka suatu hari, kami membuat film dokumenter yang berisi potret nyata kemiskinan di Kecamatan Bulukumpa, lengkap dengan himbauan para Tokoh Masyarakat yang telah paham ruh perjuangan P2KP, tentu saja dengan bahasa yang mudah dipahami warga, disamping rekaman beberapa kegiatan sosialisasi tingkat RK yang masih berlangsung. Kami pikir, walaupun sederhana, toh tayangan seperti ini masih langka untuk dikonsumsi masyarakat pedesaan dan diharapkan dapat menjadi bahan diskusi warga.

Dua malam berturut-turut yaitu tanggal 7 dan 8 Juli, film dokumenter P2KP Kecamatan Bulukumpa (yang sampai sekarang belum ada judulnya), mengudara di wilayah Bulukumpa dan sekitarnya. Efek dari penayangan perdana film dokumenter ini sungguh luar biasa. Dimana-mana P2KP menjadi buah bibir. Pro dan kontra muncul di masyarakat tentang materi film tersebut. Termasuk didalamnya, kecemburuan desa-desa yang tidak tercover dalam film (maklum durasinya hanya 30-an menit sedangkan ada 16 desa di kecamatan ini).

Lepas dari segala pro dan kontra, misi film berhasil. P2KP menjadi bahan pergunjingan. Wajah-wajah yang muncul di film tersebut menjadi selebriti lokal. Kami bahkan mendapat undangan dari Forum Pemerhati Pembangunan Bulukumpa dan Dewan Guru SMU Bulukumpa untuk berdiskusi mengenai konsep P2KP lebih dalam. Hampir 3 bulan sosialisasi tingkat RK yang telah kami lakukan siang malam, seperti kalah gaung apabila dibandingkan dengan 2 hari pemutaran film dokumenter ini.

Rencananya, kami berniat untuk membuat kelanjutan film ini (episode 2) yang materinya seputar konsep kerelawanan dalam rangka menyambut RKM yang telah terjadwal. Mudah-mudahan dapat diserap dengan baik oleh warga Bulukumpa pada khususnya sehingga tergugah untuk berjuang bersama P2KP.

Selain itu, ada hal unik yang sempat sampai ke telinga kami mengenai film tersebut. Ternyata ada ibu yang sampai menangis saat menonton film dokumenter P2KP, bukan karena tergugah perasaannya, tapi karena jadwal sinetron bersambung yang ditunggunya selama seminggu, harus rela dibajak jam tayangnya oleh pemutaran film P2KP (pemutaran perdana ‘prime time’ pukul 20.00). Oleh karena itu, jam tayangnya kami ubah menjadi rutin setiap hari minggu pukul 7 malam.

(Ditulis oleh: Syamsu Budiyanti; Dari Cerita Lapang A. Indra Nur, SP: Faskel Korkot 3 Bulukumba, Kecamatan Bulukumba KMW 8 P2KP 2/1, indrabanget@yahoo.com)

Miskin Tak Masalah Asal Tak Banyak Dosa

Terkirim Desember 22, 2008 oleh syamsubudiyanti
Kategori: Empowerment

Pamekasan, 6 Maret 2005

KEMISKINAN merupakan persoalan universal yang sekaligus menjadi penyebab manusia untuk berikhtiar agar tidak terperangkap padanya. Semua umat manusia beranggapan bahwa miskin adalah sesuatu yang harus dihindari, bahkan kadang-kadang, orang yang sudah jatuh dalam jurang kemiskinan tidak mau dikatakan orang miskin karena malu dan sebagainya.

Kemiskinan juga menjadi akar masalah dari setiap persoalan yang muncul di tengah-tengah masyarakat. Kriminalitas, korupsi kolusi dan nepotisme, merupakan perbuatan yang tercela yang diakibatkan oleh perasaan kekhawatiran terhadap kemiskinan. Seperti seorang pejabat melakukan tindak pidana korupsi karena ingin cepat kaya dan takut jatuh dalam jurang kemiskinan. Karena khawatir akan masa tuanya jatuh dalam kemelaratan, maka dia memanfaatkan kesempatan ‘mumpung’ menjadi pejabat untuk mengambil uang sebanyak-banyaknya, walau yang bukan haknya, yang penting uang.

Namun, Pak Satuki, seorang perwakilan warga miskin peserta sosialisasi tingkat Desa Nyalabuh Dejeh Kecamatan Pamekasan Kabupaten Pamekasan, mempunyai pandangan lain. Bagi Pak Satuki, kemiskinan bukan masalah dan tidak perlu dipermasalahkan, kecuali bagi orang-orang yang suka mempermasalahkan untuk mendapatkan keuntungan dari masalah kemiskinan.

Menurut Pak Satuki, para politisi sering mengangkat isu kemiskinan agar dirinya bisa terpilih lagi menjadi anggota DPR. Setelah terpilih dia tidak lagi membela orang miskin. Masalahnya, kalau terus-terusan membela orang miskin, dia juga akan menjadi miskin. Sebab, membela orang miskin sudah pasti tidak ada uangnya. Lain halnya kalau membela pejabat atau pengusaha, maka dia akan ikut jadi kaya karena yang dibela, banyak uangnya.

Begitu juga dengan LSM yang suka mempermasalahkan kemiskinan, karena dengan begitu mereka akan mendapatkan pekerjaan. Setelah mendapat pekerjaan mereka tidak akan membantu orang miskin karena kalau benar-benar membantu orang miskin mereka juga akan menjadi miskin. Sebab mereka tidak banyak mendapatkan keuntungan materi dari pekerjaan itu. Sehingga, kemiskinan tidak perlu di permasalahkan karena semakin dipermasalahkan, maka semakin banyak pula orang-orang yang tidak jujur, penghisab, rakus dan lain sebagainya.

Pak Satuki juga menilai, proyek untuk membantu orang miskin seperti P2KP sebenarnya bukan sesuatu yang baru dan telah ada sejak dulu seperti IDT, JPS, KUT, bantuan Raskin. Semuanya bukan justru memecahkan masalah, malah menambah masalah yang menimbulkan konflik antar masyarakat. Terus terang saja, Bapak-bapak Faskel atau Konsultan, banyak Ustadz dan Kiai yang sebelumnya menjadi panutan dan dipercaya masyarakat, menjadi tidak berharga dan terhina di masyarakat gara-gara proyek yang katanya membantu orang miskin.

“Saya betul-betul khawatir, P2KP akan menambah sederetan orang-orang yang sebelumnya dipercaya menjadi hina di tengah-tengah masyarakat, gara-gara P2KP,” ungkap Pak Satuki. “Bagi saya, miskin tak masalah asal tak banyak dosa, sudah begitu saja, dan orang yang tak banyak dosa, nikmat hidupnya, Pak,” lanjut pria ini.

Pernyataan Pak Satuki tersebut, banyak mendapatkan perhatian dari para peserta sosialisasi lain yang sekaligus membuat susana menjadi tegang dan hening. Tim Fasilitator Kelurahan yang menjadi narasumber, dengan sikap tenang, mengajak peserta sosialisasi untuk merefleksikan dan menjadikan pernyataan Pak Satuki sebagai bahan diskusi.

Salah satu peserta perwakilan dari BPD menanggapi bahwa apa yang disampaikan Pak Satuki merupakan sebuah realitas yang terjadi dari proyek ke proyek. Menanggulangi kemiskinan adalah wajib hukumnya dan menjadi bagian dari jihad, karena menurut agama, kefakiran mendekati kekufuran, menanggulangi kemiskinan adalah perintah agama.

Apa yang disampaikan Pak Satuki, sebagai bentuk protes terhadap pihak-pihak yang memanfaatkan kemiskinan untuk kepentingan pribadinya. Bukan berarti Pak Satuki apatis terhadap ikhtiar untuk menanggulangi kemiskinan. Seperti halnya memanfaatkan agama untuk kepentingan pribadi atau mencari keuntungan pribadi dalam agama, yang semula agama ditujukan agar manusia bermoral, justru menjadi manusia amoral dan menjadi sumber pertikaian antar umat. Kemudian, apakah agama menjadi candu masyarakat dan kita tidak perlu beragama atau apatis terhadap agama, begitu pula dalam hal menanggulangi kemiskinan.

Oleh karena menanggulangi kemiskinan bagian dari jihad, maka yang harus digarap terlebih dahulu adalah manusianya. Mengedepankan kejujuran dan keadilan serta mempunyai keberpihakan terhadap kaum miskin. Proyek menanggulangi kemiskinan sebelumnya, tanpa ada proses komitmen moral di masyarakat, tapi dengan tiba-tiba, ada bantuan dana yang cair, seperti KUT. Semua berorientasi terhadap uang, kemudian rebutan antar pihak dan saling mencurigai. Nah, kalau P2KP seperti itu, lebih baik ditolak saja daripada menimbulkan masalah seperti apa yang disampaikan Pak Satuki. Demikian mator sekelangkong (terima kasih–red).

Tim Faskel sendiri terus memfasilitasi, mengarahkan dan merumuskan harapan-harapan masyarakat ke dalam bentuk siklus P2KP. Pada akhirnya, peserta menyepakati bahwa siklus P2KP merupakan sebuah proses pembelajaran untuk mewujudkan harapan-harapan tersebut.

Yang dapat dijadikan pembelajaran dalam diskusi ini adalah bahwa sosialisasi tidak hanya bertujuan agar masyarakat memahami P2KP, tetapi juga memunculkan kesadaran kritis masyarakat sehingga mengalami perubahan pola pikir dan sikap. Masyarakat berkeyakinan bahwa menanggulangi kemiskinan tidak cukup dengan utang-utangan dan bantuan dana beras, dsb. Kemiskinan, bukan persoalan sederhana yang cukup dengan utang-utangan, maka semuanya akan beres.

Siklus P2KP bukan syarat untuk mencairkan BLM, tapi siklus merupakan proses pembelajaran dalam masyarakat agar mampu secara mandiri dalam memecahkan masalahnya. Sehingga masyarakat dalam melakukan proses ini, bukan sebuah bentuk konskuensi untuk mendapatkan dana BLM, tapi sebagai sebuah bentuk konsekuensi bahwa masalah kemiskinan adalah masalahnya dan yang bisa menyelesaikan masalahnya adalah dirinya sendiri dengan bekerjasama dan bersama di atas keberagaman.  

Makna lain dalam diskusi ini yang dapat dijadikan renungan bagi semua pelaku P2KP pada khususnya dan semua pihak pada umumnya adalah bahwa niat baik dan maksud yang baik akan menjadi tidak baik dalam faktanya apabila tidak dilandasi oleh komitmen moral, dilaksanakan dengan proses yang tidak benar serta tidak sesuai dengan maksud dan niatnya. Pernyataan Pak Satuki merupakan gambaran bahwa proyek-proyek yang bertujuan untuk memecahkan persoalan kemiskinan yang diharapkan dapat membantu masyarakat miskin dalam memecahkan masalahnya justru melahirkan masalah baru yaitu ketidak jujuran dan ketidakadilan. Tujuan baik itu hanya menjadi jasad tanpa roh yang sebenarnya. Roh sebenarnya hilang berganti roh-roh najis yang yang menyusup pada jasad tujuan baik itu.

Pada akhirnya, jasad tersebut menjadi sesuatu yang menakutkan dan menjijikkan. 
P2KP yang mengedepankan nilai-nilai, pembelajaran dan pemberdayaan dalam memecahkan persoalan kemiskinan, harus kita jaga rohnya agar tidak tercerabut dari jasadnya dengan komitmen moral dari semua pihak yang terlibat dalam pelaksanaan P2KP. Semua pihak itu adalah masyarakat, pemerintah, konsultan dari KMP sampai dengan Faskel dan perusahaan.

P2KP hanya tinggal jargon-jargonnya apabila proses dilakukan hanya untuk mengejar target proyek dan sekedar memenuhi kebutuhan administrasi. Semuanya harus berangkat dari komitmen moral sehingga subtansi P2KP benar-benar dilaksanakan dengan konskuen. Dan yakinlah bahwa proses yang baik sudah barang tentu akan menghasilkan sesuatu yang baik pula begitu juga sebaliknya.

(Data Ir. Ahmad Yani, Koordinator Kota 3 Pamekasan-Sumenep KMW 16 P2KP (2/2); Kompilasi Data dan Tulis Ulang: Syamsu Budiyanti)

Geliat Relawan Jingah Menanggulangi Kemiskinannya

Terkirim Desember 22, 2008 oleh syamsubudiyanti
Kategori: Empowerment

Teweh Tengah, 25 Februari 2005

KELURAHAN JINGAH, Kecamatan Teweh Tengah memiliki luas wilayah 117 km2, sebelah timur berbatasan dengan Desa Hajak, sedangkan di sebelah baratnya terbentang luas sungai Barito. Umumnya, mata pencaharian penduduk Kelurahan Jingah adalah menyadap karet dengan kehidupan keberagamaan masyarakatnya yang tergolong harmonis, terbukti dengan tingginya toleransi antar pemeluk agama, seperti Islam (agama mayoritas penduduk Jingah–red), Kristen serta Hindu Kaharingan.

Kelurahan Jingah memiliki 6 Rukun Tetangga (RT), dan satu diantaranya merupakan eks. wilayah transmigrasi sosial, yaitu RT 05. Letak RT 05 memang jauh terpisah dari Kelurahan Jingah, kira-kira ± 7 km dari pusat kelurahan. Kondisi masyarakat RT ini pada umumnya termasuk dalam kategori miskin. Sebagai daerah eks. wilayah transmigrasi sosial, dulunya masyarakat terbiasa menerima pemberian fasilitas pemerintah seperti rumah, lahan dan bibit secara lebih mudah, hingga dampaknya menjadikan keadaan masyarakatnya relatif kurang termotivasi untuk berusaha lebih maju.

Namun, hal ini tidak menjadikan masyarakat RT 05 rela begitu saja membiarkan kemiskinan di antara mereka berlanjut. Warga kerapkali berusaha mengatasi problem kemiskinan dengan merantau ke berbagai daerah di sekitarnya yang dinilai lebih banyak menjanjikan lapangan kerja. Keadaan tersebut, lambat laun justru mengurangi jumlah tenaga produktif di RT tersebut secara ‘significant’. Hingga akhirnya, warga berusaha membuat lapangan pekerjaan sendiri seperti ojek perahu klotok, berdagang, mencari ikan dan menyadap karet, meski nampaknya, belum dapat memberi kontribusi yang berarti bagi persoalan kemiskinan di RT ini.

Relawan: Maju Terus, Pantang Mundur

Setelah hampir setengah tahun Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP) hadir di tengah-tengah masyarakat Kelurahan Jingah, mulai lahirlah inisiatif dari beberapa pemuda yang bergabung sebagai Relawan untuk mencoba mengubah kemiskinan yang melanda. “Sebenarnya, salah satu penyebab yang membuat kita terus menerus miskin yaitu karena tidak mempunyai pekerjaan yang tetap. Kita harus ke sana ke mari untuk mencari penghasilan yang tidak pasti. Dengan P2KP, mudah-mudahan kita bisa membangun masa depan yang lebih cerah,” ujar Mishan, seorang Relawan yang bermukim di wilayah RT 05.

Mishan, laki-laki yang hanya lulusan Sekolah Dasar dan hampir berusia setengah baya ini, senantiasa aktif mengajak masyarakat Kelurahan Jingah, khususnya RT 05 untuk memerangi kemiskinan. Walau dengan keterbatasan fisik yang dimilikinya (tunadaksa–red), Mishan tidak patah semangat ketika harus menghadapi kesalahpahaman masyarakat dalam salah satu siklus yang difasilitasinya. “Saya berharap, suatu saat akan ada kelompok usaha yang menetap di Jingah ini, semisal usaha furniture atau bikin sandal yang bisa menyerap tenaga kerja dari warga sekitar,” harap Mishan. “Sehingga para pemuda tidak lagi kesana kemari mencari kerja dan kampung pun kembali ramai lagi. Karena, saat ini banyak pemuda yang meninggalkan desa hingga kampung menjadi sunyi,” tambahnya.

M. Jurianto, Relawan lainnya, juga memiliki komentar senada tentang kemiskinan. “Miskin yang melanda kita ini sebenarnya ada 2 macam, yaitu miskin harta dan miskin pengalaman. Jika miskin harta, solusinya mau bekerja keras dan berusaha, sedangkan jika miskin pengalaman, solusinya yaitu bergaul dengan tetangga hingga ada kebersamaan,” paparnya.  Adapun menyikapi hambatan yang datang dari penduduk, Juriatno berujar, ”Seringkali kita memang dicurigai macam–macam oleh warga, walaupun sebenarnya kita benar. Pernah terjadi benturan antara kita dengan warga karena masalah teknis pendataan. Padahal kami bekerja untuk mereka (masyarakat–red) tanpa pamrih,” lanjutnya dengan raut muka berkaca-kaca.

Juriatno yang ‘low profile’ dan murah senyum ini sangat berharap agar program P2KP jangan sampai terhenti di tengah jalan. Sebab baginya, program P2KP ini dapat menambah pengalaman, meningkatkan pergaulan dengan masyarakat, bisa mengenal dan mengukur kemampuan diri sendiri melalui perubahan cara berpikir. “Dengan kehadiran program P2KP, bisa menjadi cambuk bagi kita untuk terus maju-pantang mundur, dalam mengatasi kemiskinan yang selama ini membelenggu masyarakat Kelurahan Jingah,” tutur Juriatno.

(AE/Laporan: Soeryo W. dan Sudarti (TF-0305) KMW 3 (2/1); Ditulis oleh: Syamsu Budiyanti)

Kemiskinan di antara Potensi Pulau Lady Di

Terkirim Desember 22, 2008 oleh syamsubudiyanti
Kategori: Empowerment

NTB, 22 Februari 2005

PROVINSI NTB tidak hanya terdiri dari Pulau Lombok dan Sumbawa. Diantara pulau Lombok dan Bali, ada 3 Gili yakni Gili Meno, Gili Air dan Gili Trawangan yang dikenal sebagai obyek wisata. Di samping itu masih ada beberapa Gili dan pulau-pulau kecil lain yang belum banyak diketahui. Di Kabupaten Sumbawa misalnya, ada Pulau Medang dan Pulau Moyo. Kedua pulau ini merupakan salah satu lokasi P2KP 2/1.

Di Pulau Moyo dengan aset kekayaan alamnya yang masih lestari, pernah menginap puteri legendaris kelas dunia, Lady Diana, semasa hidupnya. Adakah sesuatu yang lain sehingga wisatawan kelas atas seperti Lady Di, berkunjung ke sana. Paling tidak, dolar wisatawan bisa dikuras buat membangun negeri ini melalui kunjungannya ke pulau itu. Tragisnya, saat ini terdapat sekitar 500 kepala keluarga miskin di pulau yang memiliki kemah yang pernah dihuni oleh mantan isteri pangeran Charles itu. Konon tarifnya mencapai 10 juta per-malam. 

Sehari sebelum berkunjung ke Pulau Moyo, bersama Camat Labuhan, Badas Abdul Hakik Yahas, kami mengunjungi Pulau Medang dan bermalam di sana. “Kalau kita berangkat pagi, saya rasa ombaknya tidak terlalu besar. Baru-baru ini di sebelah utara Pulau Medang terjadi musibah tenggelamnya sebuah kapal niaga yang menelan jiwa dan korban hilang,” kata Pak Camat.

Jam tujuh kurang seperempat kami berangkat. Kami melewati celah yang diberi nama ‘Tanjung Menangis’. Nama itu mengingatkan saya pada karya seniman Sumbawa yang menuangkan kisah berpisahnya sepasang kekasih akibat gelombang air laut melalui sebuah sendra tari yang dipagelarkan di Mataram, belum lama ini.

Perjalanan menggunakan perahu bermesin ganda itu relatif cepat walau sesekali sang nahkoda, harus mengurangi kecepatan karena dihadang ombak. Menjelang sampai, perjalanan kami terpaksa harus meliuk-liuk karena menghindari gugusan rumput laut yang dibudidayakan oleh penduduk setempat. Perjalanan yang biasanya ditempuh antara 2,5 hingga 3 jam itu, kami capai dalam waktu lebih singkat.

Sosialisasi tentang P2KP rupanya sudah berjalan di pulau itu. Paling tidak, ketika mengetahui kami adalah rombongan P2KP, sekumpulan anak-anak yang menyambut kedatangan kami, dengan nada canda berseru ‘pe dua ka pe, pe dua ka pe, kape kiri, kape kanan’, bersamaan dengan itu mereka menepuk ketiak kiri dan ketiak kanannya. Rupanya dalam bahasa setempat, kape (baca : kepeh) berarti ketiak.

Panjang Pulau Medang sekitar 8 km dengan bagian terlebar 3 km yang membujur dari timur ke barat. Uniknya, pulau kecil itu dihuni oleh dua etnis yaitu Suku Bajo dan Suku Bugis. Perkampungan Suku Bajo yang mendiami sisi timur pulau itu membentuk gugusan rumah-rumah panggung permukiman yang menjadi sebuah komplek. Sementara rumah-rumah suku Bugis yang tinggal di bagian barat Pulau Medang, letak perumahannya agak terpencar.

Budaya kedua suku ini, termasuk bahasa yang mereka gunakan sangat berbeda. Akan tetapi mereka pada umumnya hidup rukun berdampingan dan tidak pernah ada konflik antar etnis. Dalam komunikasi, ada sebagian yang saling mengerti bahasa satu dengan lainnya, namun bahasa Indonesia merupakan bahasa yang umum mereka gunakan manakala mereka berkomunikasi dengan pihak lain. Ketika saya tanya kepada beberapa orang yang saya anggap sepuh, ternyata tidak ada yang tahu, siapa diantara kedua suku itu yang lebih dahulu menempati pulau itu.

Desa Bajo Medang yang berpenduduk 1.403 orang (372 KK) berada di bagian timur Pulau Medang. Wilayah pemerintahannya terbagi menjadi 2 dusun dengan 8 RT. Tiga perempat penduduknya adalah nelayan dan sisanya hidup dari bertani rumput laut dan berladang. Menurut Camat, jumlah keluarga miskin di wilayahnya tercatat 2.929 KK yang tersebar di 7 desa. Dua desa di Pulau Medang yaitu Desa Bajo Medang dan Desa Bugis Medang, 2 desa di Pulau Moyo yaitu Desa Sebotok dan Desa Labuan Haji, dan 3 desa lagi berada di daratan Sumbawa yaitu Labuan Badas, Karang Bima dan Labuhan Sumbawa.

Sutono, Faskel yang bertugas di Pulau Medang ketika melakukan sosialisasi mengumpamakan bahwa Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) yang akan dibentuk, tidak ubahnya seperti membangun fisik rumah. Seberapa sederhana rumah itu, tentu akan memerlukan pondasi yang cukup kuat sesuai dengan beban yang akan diembannya. Setelah pondasinya kuat, perlu tembok, pintu, jendela dan kelengkapan lainnya guna keamanan dan kenyamanan bagi penghuninya. Bila rumah sudah terbangun dengan baik, lalu ada alat-alat rumah tangga dan prabot lain didatangkan untuk mengisinya tentu akan aman dan bisa berfungsi sesuai dengan kehendak penghuninya.

Pak Dahlan, seorang pensiunan guru, yang hadir dalam pertemuan itu secara spontan mengatakan, kalau begitu sama dengan filosofi perkawinan suku Bajo yang mendiami setengah pulau Medang ini. Menurut saya, tidak hanya fisiknya, akan tetapi proses dan makna yang dikandungnya sangat dalam. Di sini ada prosesi perkawinan yang didahului dengan acara ‘nyorong’.

Dalam acara ini keluarga calon mempelai laki-laki akan mendatangi keluarga calon mempelai perempuan untuk melamar. Setelah keluarga calon mempelai wanita berunding maka pada kedatangannya yang kedua, keluarga calon mempelai laki-laki akan memperoleh jawaban, apakah lamarannya diterima atau ditolak. Kira-kira sama seperti FGD RK.

Pada kedatangannya yang ketiga, mempelai laki-laki akan membawa material dan kelengkapan lain yang diminta oleh keluarga calon pengantin perempuan. Acara ini disaksikan oleh keluarga dan kerabat serta undangan lainnya. Kira-kira seperti itulah program P2KP ini, ada filosofi dan makna budaya yang dalam, ada proses atau siklus yang mesti dilalui dengan sabar sebab rumah tangga yang akan dibangun seperti halnya P2KP ini dihajatkan akan berlanjut terus. P2KP sudah kita nyatakan untuk kita terima, berarti kita sepakat untuk dengan sabar mengikuti siklusnya, kata warga desa yang cukup sepuh ini.

Malam harinya secara kebetulan berlangsung acara ‘nyorong’ pada keluarga yang rumahnya tidak jauh dari rumah Kepala Desa. Pak Camat dan semua anggota rombongan kami yang berkunjung ke pulau itu diundang secara khusus, namun semua kami tidak bisa hadir karena ada pertemuan dengan masyarakat di Desa Bugis Medang.

Belum puas kami mengorek cerita tentang prosesi perkawinan itu, kami harus berangkat ke Pulau Moyo. Pak Di dan dua anaknya dengan cekatan memasang terpal di bagian depan dengan menyisakan beberapa meter saja di buritan perahu kami yang akan berangkat ke Desa Sebotok di Pulau Moyo. Maksudnya agar kami tidak basah kuyup ketika menyeberangi selat yang ombaknya mulai besar pagi itu.

Setelah dekat dengan pulau Moyo, sang nahkoda menempuh strategi melambung untuk menghindari ombak mengitari hampir separuh daratan itu. Rasanya perjalanan kami tidak terlalau lama dan ketika kami sampai di Kantor Desa Sebotok yang terletak di sisi timur laut Pulau Moyo. Di situ kebetulan sedang berlangsung rembug warga pada tingkat desa yang dipandu Lalu Tanwir yang bertugas sebagai Fasilitator di tempat itu.

“Desa Sebotok terdiri dari hanya 2 dusun tapi meliputi separuh pulau ini,” ungkap Pak Haeyung, Kepala Desa Sebotok. Dari pusat desa ke dusun berikutnya berjarak sekitar 8 kilometer katanya. Tak ada sarana apapun sehingga kita hanya bisa berjalan kaki kemana-mana di sini. “Memang, di satu desa, saya bisa berjalan antara 6 sampai 8 jam menyeberangi gunung,” ujar Faskel ‘Mamiq’, panggilan akrab untuk Lalu Tanwir.

Hari itu juga kami menuju Desa Labuhan Haji yang berada di sisi barat Pulau Moyo. Belum ada penjelasan mengapa desa itu namanya Labuhan Haji. “Saya tidak tahu persis,” kata Pak Haji, orang pertama yang kami temui di desa itu. Menurutnya, mata pencaharian utama penduduk di sini adalah berladang dan beternak.

Berbeda dengan penduduk Desa Bugis Medang yang sebagian besar hidup dari melaut, di desa ini tidak ada nelayan. Kalaupun ada orang yang menangkap ikan, sebatas untuk dikonsumsi sendiri. “Kami sebagian besar dari suku mBojo, dari Bima dan Dompu. Banyak anak-anak yang tidak bisa melanjutkan sekolah,” tambah Pak Haji. “Saya sudah mendengar program P2KP, saya hadir ketika ada pertemuan di kantor desa, kami sangat berharap itu bisa menjadi kenyataan, tidak cuma janji-janji kosong saja,” kata Pak Haji yang kemudian berlari kecil meninggalkan kami mengejar cucunya yang masih kecil bermain ramai-ramai di bibir pantai.

Kedua Fasilitator yang menyertai perjalanan kami saat itu saling menoleh, ketika saya bertanya sekarang kita mau ke mana, sebab di tempat kami berlabuh itu tidak ada penginapan, padahal tidur di emperanpun dalam perjalanan seperi itu saya sudah siap. Bukankah di desa ini ada hotel Amanwana yang sangat terkenal itu, tanya saya dalam hati. Belakangan saya tau bahwa letaknya ternyata masih jauh dari pusat Desa Labuhan Haji, itupun harus ditempuh melalui laut, sementar tidak ada perahu yang secara khusus pergi ke tempat itu.

“Desa ini terdiri dari dua dusun saja, tapi untuk mencapai dusun satunya lagi saya harus melintasi gunung di sebelah timur itu dengan berjalan kaki sekitar 6 jam,” kata Lalu Tanwir. Lalu juga menambahkan bahwa pulau itu memiliki banyak potensi. “Saya melihat hutan jatinya masih utuh dan terlindungi. Pendudukpun tidak ada yang merusak sebab mereka tidak bisa memasarkan. Angkutan ke mana-mana sulit dan jarang. Hutannya bisa lestari mungkin juga karena di tempat ini tidak ada pejabat yang usil seperti di tempat saya,” papar Fasilitator asal Pulau Lombok itu menyindir.

“Penduduk pulau ini sebagian punya banyak sapi dan kambing tapi mereka belum mengelola ternaknya secara baik,” lanjut Tanwir tanpa menjelaskannya lebih jauh. “Memang, rumah-rumah yang sempat kami lihat berbentuk sederhana, sebagian besar rumah panggung dan letaknya menyebar. Kalau mereka punya ternak, kenapa pulau ini dikategorikan miskin,” tanya saya kala itu untuk memancing.

Dengan penuh fiosofi, Lalu menjawab, tentu, tidak semua penduduknya punya ternak. Dan kategori miskin itu kan banyak sesuai kondisi setempat. “Sementara ini kita menggunakan ukuran miskin menurut data BKKBN yaitu pra-KS dan KS-1,” lanjutnya. Ketika saya bertanya apakah PT Amanwana yang mengelola obyek wisata di pulau ini, berpotensi untuk turut membantu masyarakat miskin di pulai ini, dengan sigap, Lalu sontak memotong, sambil menoleh rekannya seprofesi Sutono, yang dijawab dengan anggukan meyakinkan sembari menggulung senar pancing yang disiapkannya untuk mengisi waktu dalam penyeberangan menuju tujuan berikutnya.

Yang jelas, sudah lama berjalan mekanisme kerjasama dan kepedulian antara pengusaha dan penduduk di pulau ini. Lalu juga mencontohkan, setiap hari Kamis, penduduk yang datang dan pergi ke Pulau Moyo, Labuhan Badas, diberi tumpangan kapal gratis, yang itu nilainya cukup besar dan masyarakat setempat bersyukur sekali. “Mereka merasa sebagai satu keluarga dan saling membutuhkan,” ujar Lalu. “Sinergi itu diharapkan akan lebih kuat setelah semua unsur masyarakat termasuk pengusaha setempat membangun wadah dan menyusun program penanggulangan kemiskinan di wilayah ini,” tambahnya sembari mengakhiri pembicaraan.

(Dari Catatan Lapang Wirakarma, TA Sosialisasi KMW 10 (2/1), Mataram, 7 Februari 2005; Kompilasi dan Ditulis Ulang oleh: Syamsu Budiyanti)

Pulau Tonduk (1): Duka Penyelam Tripang

Terkirim Desember 22, 2008 oleh syamsubudiyanti
Kategori: Empowerment

Tonduk, Ra’as, 19 Agustus 2005

DESA TONDUK adalah sebuah wilayah kepulauan, yang untuk mencapai pulau ini, harus transit terlebih dahulu di Pulau Ra’as. Apabila berangkat dari Dungkek yakni pelabuhan atau dermaga paling ujung timur di Pulau Madura, haru sdilalui dengan perjalanan lima jam yang itupun dalam kondisi angin dan cuaca normal. Tapi, apabila tidak normal, bisa lebih lama lagi akibat diombang-ambingkan ombak yang tidak menentu.

Setelah sampai di Panggung yakni pelabuhan paling ujung timur di Pulau Ra’as, barulah bisa sampai di Pulau Tonduk dengan naik perahu tambang yang hanya memuat sekitar 15 sampai 20 orang, sambil membawa jerigen berisi air, karena di Tonduk tidak ada sumber air tawar yang layak dikonsumsi, harus mengambil dari pulau Ra’as.

Saipul, Duka Penyelam Tripang

Sebut saja namanya Saipul, bukan nama samaran, tapi memang biasa dipanggil begitu oleh banyak orang di Desa Tonduk. Ia merupakan bagian dari warga Desa Tonduk, Kecamatan Ra’as, Kabupaten Sumenep, yang untuk P2KP fase ini, Desa Tonduk mendapat P2KP dengan alokasi pagu BLM sebesar dua ratus lima puluh juta rupiah.

Apa sebenarnya yang menarik dari sosok Saipul ini? Dia hanya salah satu warga biasa yang hidup di Desa Tonduk, yang sejujurnya, menjadi inspirasi dari tulisan ini. Saya yakin, ada suatu ’hikmah’ mendalam yang bisa dipetik dari sosoknya, tentunya apabila anda terus melanjutkan membaca tulisan yang terburu-buru ini, karena ada berita telepon dari Sekretaris KMW 16, yang kebetulan giliran saya.

Suatu sore, di mana matahari sudah mulai redup, saya berjalan-jalan menelusuri desa bersama seorang Relawan sebagai penunjuk jalan. Ketika sampai di Dusun Tonduk Barat atau lebih dikenal dengan sebutan Jengkara, saya tertarik pada sebuah gubug yang berdiri sendiri di tengah-tengah kebun pohon kelapa. Mulanya, saya hanya berfikir hanya mau singgah sebentar, tetapi ternyata gubug itu berpenghuni.

Ukuran gubug tersebut sangat sederhana, tidak lebih dari dua kali tiga meter. Dindingnya terbuat dari gedeg bambu beratapkan kolare (daun pohon kelapa), beralaskan tikar dari pandan yang mulai lusuh. Di dalam gubug yang sempit itu, terdapat blek bekas minyak goreng (tempat beras), tiga botol aqua plastik, sebuah koper berwarna coklat (tempat pakaian) serta sebuah kendil (tempat menanak nasi). Dan satu lagi yang ada di sana adalah sebuah tongkat.

“Assalamu’alaikum, apa kabar Pak Saipul?” sapa saya. “Wa’alaikum salam, ya beginilah,” ujarnya ramah seraya meraih tongkat dan bergeser seolah memberikan tempat kepada saya sembari mempersilahkan duduk. “Sedang apa Pak?” tanya saya lagi. “Ini Pak, sedang merangkai manik-manik buat kalung, cari upah buat makan. Satu kodi ongkosnya tiga ribu rupiah. Ya maklum, mau kerja apa lagi Pak, saya di sini sebatang kara, kaki saya lumpuh akibat nyelam mencari binatang,” ungkapnya.

Memang, mayoritas pekerjaan warga Tonduk adalah menyelam hingga kedalaman tiga puluh depa untuk mencari binatang (ikan tripang), terutama yang tersebar di perairan Kupang, Irian, Sulawesi, dengan masa tiga sampai empat bulan di rantauan.

Sementara anak istri mereka, di tinggal di rumah dengan beraktifitas merangkai manik-manik sambil menunggu sang suami datang, sekalipun, pada saat datangnya sang suami mereka, paling lama hanya dua bulan. Setelah itu, berangkat lagi berlayar dan menyelam, untuk mencari sesuap nasi. Dalam prinsip mereka, tidak takut mati, namun, mereka hanya takut kelaparan.

Dan, tidak sedikit akibat dari menyelam, selain taruhannya adalah maut, apabila selamatpun, akan terkena ’kram’ (lumpuh mulai dari paha sampai kaki), terutama menyelam saat siang hari. Lumpuh dan tak berdaya, layaknya Pak Saipul di atas. (Bersambung)

(Dari Data Suryadi, Fasilitator Kelurahan Tonduk, Korkot 3, KMW 16 P2KP 2/2; Kompilasi Ulang oleh: Syamsu Budiyanti)


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.