Perjalanan ke Pulau Putri (2): Lebih Baik Mati Daripada Hidup Kelaparan

Raas, 4 April 2005

SEKITAR pukul 10.30 WIB, rombongan yang terdiri dari Bappeda, Tim Faskel, Korkot dan Asisten Korkot, berangkat meninggalkan pelabuhan Dungkek menuju Pulau Raas. Setelah 1,5 jam di laut, belum ada tanda-tanda datangnya gelombang. Memang kebetulan, cuaca saat itu sangat baik sehingga perjalanan berjalan lancar. Kekhawatiran saya sejak tadi malam pun sirna.

Demikian pula, keceriaan mulai tampak pada wajah rombongan. Perjalanan menjadi sangat berbunga-bunga karena rasa takut hilang berganti dengan kenikmatan mata memandang laut lepas nan indah. Sang nahkoda pun memastikan bahwa perjalanan ini bagus, dan kalaupun ada gelombang, itu sangat kecil, tidak seperti biasanya.

Di tengah ayunan gelombang kecil, sekedar melapaskan kejenuhan, saya memperkenalkan diri sembari mencoba ngobrol dengan salah satu penumpang bernama Usman yang kebetulan duduk disamping saya. Sementara teman-teman lain, tengah asyik main domino.

Usman, seorang warga asli Raas yang berasal dari Desa Brakas, Kecamatan Raas. Berprofesi sebagai pedagang pracangan di kampungnya, membuat Usman terbiasa mengarungi luas samudra antara Sumenep dan Raas setiap minggu untuk ‘kula’an’ (membeli barang dagangan—red), guna dijual lagi.

Banyak cerita duka yang dialami Usman dalam menekuni pekerjaannya, tapi baginya, hal itu bukan menjadi beban karena telah dianggap sebagai bagian hidupnya. Bagi Usman, lebih baik mati daripada hidup kelaparan yang disampaikan dengan bahasa madura, ‘awak mateah nom’ tembhang lapar’.

Dengan sesekali diselingi guyonan kecil, saya bertanya, ”Pak Usman, napah bender e Raas ka’dintoh bannyak janda ban reng binek se edhinggalagih lakenah (apa betul di Raas banyak janda dan istri yang ditinggal lama suaminya–red).” “Oo…bendher nom (betul–red),” jawab Usman.

Menyambut pertanyaan saya, sontak dengan panjang lebar, Usman bercerita. Dirinya membenarkan dan memperkuat anggapan umum bahwa Pulau Raas adalah pulau Putri. Laut adalah satu-satunya lahan untuk mecari nafkah bagi masyarakat Raas. Sebesar apapun arus ombak, orang Raas harus siap menghadapinya untuk menghidupi keluarga.

Berbulan-bulan di tengah laut dan tidur di atas gelombang adalah bagian biasa dari kehidupan warga Raas. Sehingga, bagi keluarga yang ditinggalkan pun, harus rela melepas kepergian suami, demi kelangsungan hidup mereka.

Tanpa terasa, jarum jam menunjukkan pukul 16.30 WIB. Perahu pun telah merapat di pelabuhan Brakas, Raas. Rombongan dijemput dengan izusu panther, sebuah mobil dinas Kecamatan Raas yang merupakan satu-satunya mobil yang ada di pulau ini. Sesampainya di Desa Brakas, rombongan disambut oleh beberapa Kepala Desa yang langsung diantar ke rumah Kepala Desa Alasmalang untuk makan dan Sholat Ashar.

Senin, 31 Januari 2005, pukul 09.30 WIB, lokakarya kecamatan dilaksanakan. Pak Camat dalam sambutannya menjelaskan bahwa kemiskinan di Pulau Raas bukan karena malas, namun lebih banyak disebabkan oleh akses informasi dan transformasi. Orang Raas tidak kenal putus asa dalam mencari penghidupan, ombak besar sekalipun siap diarunginya. Orang Raas berprinsip, lebih baik mati daripada hidup kelaparan. P2KP seperti menjadi secercah harapan bagi warga pulau ini tentang bagaimana masyarakat Raas harus bersikap. (Bersambung)

(Kompilasi Data dan Tulis: Syamsu Budiyanti, Dari Catatan: Abdussalam, Asisten Korkot 3 Pamekasan-Sumenep KMW 16 (2/2))

Explore posts in the same categories: Empowerment

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.