Sosialisasi Bulukumpa dengan Film, Ibu-ibu: Aduh Sinetronku…
MIMIK KEHERANAN menghiasi wajah ibu-ibu Dusun Lembangnge, Desa Kambuno, Kecamatan Bulukumpa, Sulawesi Selatan, yang tengah berkumpul menunggu penayangan sinetron kesayangan mereka. Pasalnya, sinetron dari Raam Punjabi Production yang mereka nanti, kini berganti dengan tayangan TV ber-angle-kan ‘Team P2KP Kecamatan Bulukumpa, mempersembahkan…’. Belum habis rasa heran mereka, tiba-tiba, seorang anak kecil menyeletuk dari belakang, “Itu kan wajah keriput Ibu Hajar yang sedang menumbuk padi, muncul di layar TV!” Lho kok bisa?
Gambaran diatas adalah nuansa umum yang terjadi di Kecamatan Bulukumpa saat Tim P2KP Bulukumpa menayangkan sebuah film dokumenter yang mengangkat situasi krisis yang nyaris luput dari perhatian sebagian besar warga bertajuk ‘Kemiskinan di Sekitar Kita’.
Disadari atau tidak, tipologi kemiskinan di pedesaan memiliki karakteristik yang relatif berbeda dengan kondisi perkotaan. Kemiskinan di pedesaan cenderung ‘terselubung’ dibalik meratanya taraf pendapatan dan strata ekonomi. Sangat berbeda jika dibandingkan dengan kondisi kemiskinan di perkotaan, yang dapat langsung ditangkap oleh indera karena didukung situasi yang kontras, misalnya gambaran pemukiman kumuh yang berada di antara gedung pencakar langit. Kemiskinan di pedesaan, cenderung tidak menarik perhatian untuk dibahas karena tersembunyi di tengah kebun atau berada jauh di lereng-lereng gunung. Padahal, situasinya tetap saja sama. Bahwa kemiskinan dimana-mana adalah lagu lama tentang keterhimpitan, keterjajahan dan kemelaratan.
Akibatnya, ketika warga mengetahui ada proyek bantuan kemiskinan (bahasa sebagian warga untuk P2KP–pen), banyak diantara mereka yang sudah pasang ‘kuda-kuda’ untuk ‘menjemput bola’. Entah mereka benar-benar butuh atau tidak, miskin atau tidak, yang penting banyak diantara mereka yang hanya tergiur oleh nilai uang yang dijanjikan P2KP. ‘Boro-boro’ tergugah untuk bersama berjuang menegakkan moralitas setelah 1 atau 2 jam mengikuti sosialisasi, malah pertanyaan yang pertama muncul pada sesi tanya jawab adalah: ‘Pak Fasilitator, magapi na cair doi`na (kalo bisa tahu, kapan dananya cair?)’. Oalah, akhirnya di benak banyak warga, P2KP terkesan hanya milik Fasilitator saja. Dan yang memprihatinkan, muncul persepsi, Fasilitator adalah tukang bagi-bagi duit. Wah!
Kenyataan tersebut membuat kami berpikir untuk membuat cara yang paling efektif dalam memberi pemahaman kepada warga bahwa masalah kemiskinan adalah masalah kita bersama. P2KP hanya bisa berhasil jika rasa keprihatinan akan kemiskinan yang menjadi penyakit sosial dimiliki oleh warga, dan masih banyak orang yang membutuhkan bantuan dibanding kita. Untuk itu, diperlukan media yang paling efektif guna menarik perhatian warga dalam menyimak kandungan misi perjuangan P2KP, dibanding sekedar diskusi-diskusi di tingkat RK.
Kebetulan, di dekat posko, terdapat bekas stasiun relay TVRI yang kini diambil alih oleh pihak kecamatan dan difungsikan sebagai pemancar siaran ke seluruh pelosok hingga menjangkau beberapa kecamatan tetangga (biasanya operator me-relay siaran RCTI). Melalui stasiun relay ini, kami sering memutar VCD P2KP buatan KMP, namun karena faktor bahasa, efek dari penayangan ini kurang begitu terasa.
Maka suatu hari, kami membuat film dokumenter yang berisi potret nyata kemiskinan di Kecamatan Bulukumpa, lengkap dengan himbauan para Tokoh Masyarakat yang telah paham ruh perjuangan P2KP, tentu saja dengan bahasa yang mudah dipahami warga, disamping rekaman beberapa kegiatan sosialisasi tingkat RK yang masih berlangsung. Kami pikir, walaupun sederhana, toh tayangan seperti ini masih langka untuk dikonsumsi masyarakat pedesaan dan diharapkan dapat menjadi bahan diskusi warga.
Dua malam berturut-turut yaitu tanggal 7 dan 8 Juli, film dokumenter P2KP Kecamatan Bulukumpa (yang sampai sekarang belum ada judulnya), mengudara di wilayah Bulukumpa dan sekitarnya. Efek dari penayangan perdana film dokumenter ini sungguh luar biasa. Dimana-mana P2KP menjadi buah bibir. Pro dan kontra muncul di masyarakat tentang materi film tersebut. Termasuk didalamnya, kecemburuan desa-desa yang tidak tercover dalam film (maklum durasinya hanya 30-an menit sedangkan ada 16 desa di kecamatan ini).
Lepas dari segala pro dan kontra, misi film berhasil. P2KP menjadi bahan pergunjingan. Wajah-wajah yang muncul di film tersebut menjadi selebriti lokal. Kami bahkan mendapat undangan dari Forum Pemerhati Pembangunan Bulukumpa dan Dewan Guru SMU Bulukumpa untuk berdiskusi mengenai konsep P2KP lebih dalam. Hampir 3 bulan sosialisasi tingkat RK yang telah kami lakukan siang malam, seperti kalah gaung apabila dibandingkan dengan 2 hari pemutaran film dokumenter ini.
Rencananya, kami berniat untuk membuat kelanjutan film ini (episode 2) yang materinya seputar konsep kerelawanan dalam rangka menyambut RKM yang telah terjadwal. Mudah-mudahan dapat diserap dengan baik oleh warga Bulukumpa pada khususnya sehingga tergugah untuk berjuang bersama P2KP.
Selain itu, ada hal unik yang sempat sampai ke telinga kami mengenai film tersebut. Ternyata ada ibu yang sampai menangis saat menonton film dokumenter P2KP, bukan karena tergugah perasaannya, tapi karena jadwal sinetron bersambung yang ditunggunya selama seminggu, harus rela dibajak jam tayangnya oleh pemutaran film P2KP (pemutaran perdana ‘prime time’ pukul 20.00). Oleh karena itu, jam tayangnya kami ubah menjadi rutin setiap hari minggu pukul 7 malam.
(Ditulis oleh: Syamsu Budiyanti; Dari Cerita Lapang A. Indra Nur, SP: Faskel Korkot 3 Bulukumba, Kecamatan Bulukumba KMW 8 P2KP 2/1, indrabanget@yahoo.com)
Explore posts in the same categories: Empowerment